Category Archives: Terjemahan Artikel

terjemahan artikel ke bahasa indonesia

Atheism 2.0 – Kaum tidak beragama Indonesia menemukan tempat perlindungan online (AFP)

Berikut ini adalah terjemahan akurat dari artikel AFP dalam bahasa inggris di http://bit.ly/1iyWSM yang muncul pada 24 Januari 2009 lalu. Banyak beredar terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah termodifikasi untuk kepentingan-kepentingan pihak tertentu, yang disebarkan oleh Arrahmah.com, website jihad yang mengidolakan Osama bin Laden dan Noordin M Top.


JAKARTA (AFP) – Merokok secara betuntun di sebuah kedai kopi trendy sambil tidak mengindahkan panggilan sembahyang dari mesjid, para ateis Indonesia Didi dan Dewi memiliki sedikit kesabaran untuk kepercayaan sebagian besar rekan senegaranya.

Kedua wanita muda ini adalah penentang tak beriman di dalam negara bermayoritas Muslim terbesar di dunia, tetapi mereka hanya memberitahukannya kepada beberapa orang di dunia nyata.

Malahan, keduanya telah bergabung dengan sejumlah ateis muda Indonesia yang telah menemukan tempat perlindungan di internet, menggunakan media web sebagai situs jaringan sosial, mailing listblog dan wiki untuk berkomunikasi dengan orang-orang berpikiran-sama di sebuah negara dimana menyatakan ketiadaan Tuhan dapat menyebabkan seseorang dikucilkan.

“untuk saya secara pribadi (terkoneksi online) hanya untuk berbagi pikiran-pikiran saya dan untuk bertemu dengan orang-orang yang berpikiran seperti saya, karena saya tidak bertemu dengan banyak orang seperti itu dalam dunia nyata,” kata Didi, seorang arsitek berusia 29 tahun.

“Lebih mudah untuk mengatakan bahwa anda adalah gay daripada ateis”

Dewi, mahasiswi berusia 21 tahun yang tertarik pada debatan tajam terhadap agama dan takhayul, menyetujuinya. Dalam kehidupannya di Jawa Barat di bandung, ia merahasiakan ketidakberimanannya kepada semua orang kecuali teman-teman terdekatnya.

“Jika seseorang bertanya ‘apakah kamu tidak sembahyang?’, maka saya akan sembahyang. Itu adalah sembahyang yang bersifat politik,” jelasnya.

Kedua wanita ini, yang menolak memberikan nama asli mereka, terhubung online setiap hari untuk berdebat masalah agama dengan rekan sesama ateis mereka — dan beberapa orang-orang beragama yang cukup berani untuk menantang argumen-argumen mereka — dengan aman dari belakang layar computer mereka.

Ditanya akan menjadi apa dirinya tanpa internet, Didi tertawa: “Saya akan menjadi seorang ateis yang terkungkung sepenuhnya.”

Adalah mustahil untuk mengetahui jumlah ateis yang ada di Indonesia, sebuah negara berpenduduk 234 juta jiwa yang 90 persennya adalah Muslim, dan dimana orang tidak beragama secara resmi tidak ada.

Setiap warga negara Indonesia harus membawa sebuah kartu identitas yang menyatakan ketaatannya terhadap satu dari enam agama resmi — Protestan, Katolik, Islam, Budha, Hindu atau Konfusianisme (Konghucu) — dan kepercayaan terhadap “satu Tuhan” adalah ajaran pertama dari ideologi resmi nasional Pancasila.

Kematian lebih dari setengah juta jiwa orang selama penindasan berdarah Partai Komunis Indonesia dalam mengarahkan kebangkitan kekuatan diktator terdahulu Suharto pada tahun 1966 juga telah meninggalkan bekas.

Propaganda anti-komunis selama 32 tahun masa pemerintahan Suharto berarti ateis sering dicampurkan dengan komunis, tuduhan yang tajam di Indonesia, dimana paranoia Perang Dingin tidak pernah sepenuhnya hilang.

Stigma seperti itulah yang mendorong seorang guru berusia 25 tahun dari Sumatera Barat, dikenal sebagai “XYZMan,” untuk memulai sebuah email mailing list pada tahun 2004 untuk memungkinkan para ateis mendiskusikan keyakinan mereka. Daftar itu kini telah mencatat lebih dari 350 anggota.

Meskipun mailing list tersebut sukses, XYZMan mengatakan bahwa ia dipaksa untuk merahasiakan ke-ateis-an nya dalam dunia nyata, dan telah mengalami kegagalan pernikahan dengan seorang wanita Muslim berkaitan dengan ketidakberagamaannya.

“Jika semua orang mengetahui bahwa saya adalah seorang ateis, saya bisa saja kehilangan pekerjaan saya, keluarga dan teman-teman akan membenci saya,” ia menjelaskan dalam sebuah wawancara melalui email.

“Ada juga kemungkinan saya dapat diserang secara fisik atau dibunuh karena saya adalah seorang kafir (tidak beriman) dan darah saya halal (diijinkan untuk ditumpahkan) menurut ajaran Islam.”

Walaupun tidak banyak jumlahnya, para ateis Indonesia yang terhubung online telah cepat mengadaptasi apa yang disebut blog inovasi “Web 2.0”, wiki dan situs-situs jaringan sosial.

“Kami menggunakan segala sarana yang memungkinkan (Facebook, Friendster, Multiply, dll) untuk menunjukkan keberadaan kami, mengumpulkan orang-orang,” Karl Karnadi, mahasiswa Indonesia berusia 25 tahun yang sedang belajar di Jerman yang ada di balik banyak web project, mengatakan dalam sebuah pesan Facebook kepada AFP.

Selain menghubungkan para ateis, keberadaan web itu juga dimaksudkan untuk menghancurkan penghalang bahasa yang menyebabkan orang-orang Indonesia tidak mengenal penulis-penulis penting yang ateis seperti Richard Dawkins dan Christopher Hitchens, papar Karnadi. Wiki Ateis Indonesia (Indonesian Atheist) — dimana, seperti Wikipedia, para anggota secara kolektif berkontribusi dan memperbaiki isinya — berisi artikel-artikel berbahasa Indonesia dengan topik yang bervariasi dari evolusi sampai argumen untuk dan menentang agama dan pernyataan-pernyataan “deconversion” oleh teman-teman Indonesia.

“Wiki itu seperti sebuah ilmu pengetahuan kolektif, sesuatu yang kita harapkan dapat digunakan setiap kali kita mendiskusikan agama, mendebat para penganut kreasionisme,” kata Karnadi.

Kehadiran web ini juga berperan sebagai sejenis pelayanan pendukung. Grup Facebook juga membuka diskusi-diskusi tentang bagaimana cara memulai pembicaraan tentang agama dengan keluarga dan teman-teman, dimana banyak anggota mengakui bahwa mereka berpendapat tindakan paling bijaksana adalah untuk tetap “mengenakan topeng”.

Karnadi, sebelumnya adalah seorang pianis gereja yang sekarang kehilangan keyakinannya terhadap kekristenan, mengatakan bahwa tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan sebuah website terpusat untuk mengkoordinir para ateis dan menjangkau orang-orang Indonesia yang memiliki keraguan terhadap agama mereka.

Itu adalah sebuah tugas yang diakuinya jauh lebih mudah dilakukan dari luar negeri.

“Saya memiliki kebebasan saya disini… dan saya dapat melakukan apapun (membuat website ateis, komunitas, mengkritik agama dll) secara terbuka, tanpa takut akan hukuman penjara atau para fundamentalis yang akan membunuh saya,” jelasnya.

 


Catatan penerjemahan:

 

  • Ateisme di sini berarti ketidakpercayaan terhadap adanya Tuhan.
  • Ateis adalah orang yg tidak percaya terhadap keberadaan Tuhan.
Advertisements

14 Comments

Filed under Terjemahan Artikel

Ular-ular Berbisa, Belut-belut Licin dan Harun Yahya (Richard Dawkins)

Pada tahun 2006, saya adalah salah satu dari puluhan ribu sarjana akademi di seluruh dunia yang menerima, tanpa diminta dan sepenuhnya gratis, sebuah buku besar yang mewah berjudul Atlas of Creation (Peta Penciptaan) yang ditulis oleh seorang Turki pembela Muslim bernama Harun Yahya. Tesis dari buku tersebut, yang diterbitkan dalam sebelas bahasa, yaitu bahwa evolusi adalah palsu. ‘Bukti’ utama terdiri dari halaman demi halaman berisi foto-foto indah berbagai fosil hewan, dimana masing-masing fosil tersebut disertai dengan hewan modern yang setara yang disebutkan tidak berubah sama sekali sejak waktu terbentuknya fosil itu. Ini adalah buku berformat besar, buku-meja yang tebal dengan lebih dari 700 halaman high-gloss berwarna. Biaya produksi untuk buku semacam itu pastilah sangat tinggi, dan orang akan melompat terkejut bertanya-tanya darimana uang untuk memproduksinya lalu dibagi-bagikan secara gratis dalam begitu banyak eksemplar dan bahasa.

Mengingat bahwa seluruh pesan yang disajikan dalam buku itu mengandalkan pada dugaan kemiripan antara binatang modern dan fosil pasangannya, saya merasa geli, ketika saya mulai membolak-balik secara acak, dan menemukan halaman 468 yang diperuntukkan bagi “belut”, satu fosil dan satu hewan modern. Tertulis dalam penjelasan gambarnya,

Terdapat lebih dari 400 spesies belut dalam ordo Anguilliformes. Bahwa belut-belut itu tidak mengalami perubahan apapun dalam jutaan tahun, sekali lagi menunjukkan tidak berlakunya teori evolusi.

Fosil belut yang ditunjukkan mungkin saja memang seekor belut, saya tidak yakin. Namun ‘belut’ modern yang ditunjukkan Yahya dalam foto tidak diragukan lagi bukanlah seekor belut melainkan seekor ular laut, kemungkinan jenis Laticauda yang sangat beracun (seekor belut, tentu saja, bukan ular melainkan ikan yang termasuk dalam kelas teleost). Saya belum men-scan buku itu untuk ketidaktepatan lain yang sejenis. Tetapi mengingat ini hampir merupakan halaman pertama yang saya lihat: Seberapa bernilaikah tesis buku ini yang mengatakan bahwa hewan-hewan modern tidak berubah sejak zaman pasangan fosil-fosil mereka?

Secara kebetulan, pada Mei 2008 Harun Yahya, yang nama sebenarnya adalah Adnan Oktar, dihukum di sebuah pengadilan Turki untuk menjalani tiga tahun penjara “karena menciptakan sebuah organisasi ilegal untuk kepentungan pribadi”

Catatan yang ditambahkan pada 8 Juli

Kini saya telah melihat beberapa halaman lagi dari buku yang tidak masuk akal ini. Halaman ganda yang membentang pada halaman 54-55, 368-369, dan 414-415 semuanya diberi label ‘Crinoid’, dan semua ditujukan untuk menunjukkan betapa serupanya fosil semua crinoid kuno dengan yang modern. Hewan-hewan yang termasuk dalam divisi Crinoid adalah kerabat dekat bintang laut, anggota Echinodermata. Ketiga pemaparan itu memiliki penjelasan yang hampir sama. Ini yang tertulis pada halaman 54:

Fosil crinoid yang berusia 345 juta tahun ini, identik dengan pasangan-pasangannya yang masih hidup, menjadikan teori evolusi tidak berlaku. Crinoid-crinoid yang tidak berubah selama 345 tahun membuktikan ketidakbenaran teori evolusi, menyatakan penciptaan Tuhan sebagai fakta.

yahya2

yahya2

Dan ketiga paparan gambar tersebut menampilkan foto berwarna indah dari crinoid-crinoid modern untuk mengilustrasikan maksudnya. Kecuali bahwa, dalam ketiga kasus itu, hewan modern yang ditunjukkan dalam foto bukan crinoid. Bahkan bukan echinodermata. Malahan bukan deuterostome (sub-kerajaan dimana echinodermata, dan kita, termasuk di dalamnya). Para pembaca yang adalah zoologist akan mengenalinya sebagai cacing annelid berbadan silinder, seekor sabellid.

Pada halaman 402, terdapat empat foto fosil, dengan benar dinamai Brittlestar. Brittlestar adalah salah satu kelas utama echinodermata, selain bintanglaut, bulu babi, dan crinoid. Sekali lagi, kita menemukan kutipan penciptaan yang standar:

Fosil berumur 180 juta tahun ini menunjukkan bahwa brittlestar tetap sama selama 200 juta tahun. Hewan-hewan ini, tidak ada bedanya dengan yang hidup sekarang, sekali lagi membuktikan ketidakbenaran evolusi.

Disini kita tidak hanya menemukan satu tetapi dua foto hewan hidup untuk menggambarkan tidak adanya perbedaan dengan fosil-fosil. Salah satu dari hewan modern ini adalah brittlestar. Yang lainnya adalah seekor bintang laut! Anggota dari kelas echinodermata yang sama sekali lain dan jelas-jelas sangat berbeda bahkan hanya dengan melihat sekilas.

Akhirnya, PZ meminta perhatian pada Pharyngula, tetapi saya menyertakan sebuah foto untuk lengkapnya. Pada halaman 244, Yahya ingin mengatakan bahwa lalat caddis tidak berubah sejak sejumlah serangga berumur 25 juta tahun terawetkan dalam batu amber. Sekali lagi, keterangannya:

Makhluk-makhluk hidup ini bertahan selamat selama jutaan tahun tanpa perubahan sedikitpun pada strukturnya. Kenyataan bahwa serangga-serangga ini tidak pernah berubah adalah tanda bahwa mereka tidak pernah berevolusi.

Sekarang, saatnya kita mengharapkan sesuatu yang cukup bagus saat kita melihat foto hewan modernnya. Seperti apa ‘lalat caddis’ modern itu? Seekor ikan air tawar mungkin? Seekor siput kebun? Seekor udang besar? Tidak, malah lebih bagus lagi: Seekor umpan pancing, lengkap dengan kait besi yang menyolok!

Saya kewalahan untuk menyesuaikan nilai produksi buku yang mahal dan glossy ini dengan “kebodohan yang menyesakkan” yang menjadi isinya. Apakah benar kebodohan, atau hanya kemalasan – atau mungkin kesadaran sinis dari ketidakpedulian dan kebodohan pembacanya yang jadi sasarannya – kebanyakan adalah para Muslim kreasionis (yang percaya pada cerita penciptaan). Lalu darimanakah uangnya berasal?

Catatan tambahan penerjemahan

Ordo Anguilliformes: Ordo ikan panjang yang terdiri dari belut-belut. Semua ikan dalam ordo ini memiliki tubuh menyerupai-ular dan siripnya tidak bertulang panggul. Ordo ini termasuk juga belut air tawar (Anguilidae), belut moray (Muraenidae), dan belut conger (Congridae). (sumber: http://encyclopedia.farlex.com/order+Anguilliformes)

Crinoid: http://en.wikipedia.org/wiki/Crinoid

Cacing Annelid : Cacing dengan tubuh silinder yang bersegmen secara internal maupun eksternal. (sumber: Wordweb dictionary)

Diterjemahkan dari: http://richarddawkins.net/articles/2833

2 Comments

Filed under Terjemahan Artikel